Pertama Kali di AS : Transplantasi Paru Pada Pasien COVID-19

Penulis          : Lucia Idelia Ulina Tindaon

Editor             : Dennys Kurniawan Lianto

https://lh5.googleusercontent.com/ujWYUVULZwdQHyoJ2R7jg5lOVY7TfCy43XKF3Man7DFkmmAumaKpvk9aj1PcfCFfK3fWsCAmYm2--r5gyS5SduJUenvFX-TVH8fdmNJBbV99xQIyoz0eeIxyOVGoShtwHp20rVc

Halo sobat MICROBES! Apakah kalian tahu hari ini hari apa? Hari ini, 4 Juli 2020, adalah hari peringatan kemerdekaan Amerika Serikat lho! Nah, khusus peringatan kemerdekaan Amerika Serikat, Mimi akan membahas peristiwa yang belum lama ini terjadi untuk pertama kalinya di negara tersebut. Peristiwa apa sih, Mimi? Penasaran kan? Yuk, simak artikel ini. 

Jadi, pada awal Juni lalu, untuk pertama kalinya di Amerika Serikat, seorang penderita COVID-19 menerima transplantasi paru-paru ganda. Hal ini perlu dilakukan karena saat dirawat, kondisi paru-paru pasien ini sudah rusak parah dan tak kunjung membaik, hingga ia harus menggunakan mesin ventilator sebagai alat bantu pernapasan. Kerusakan paru-paru ini disebut dengan fibrosis, yaitu adanya jaringan parut yang terbentuk pada paru-paru. Sehingga, menyebabkan terjadinya gangguan pada pernapasan. Operasi yang dilakukan tergolong lebih sulit dibanding operasi transplantasi paru-paru pada umumnya, karena paru-paru pasien sudah melekat pada jaringan di sekitarnya, yaitu jantung, dinding dada, serta diafragma. 

An extracorporeal membrane oxygenation, or ECMO, room, where coronavirus patients struggling to breathe are treated, at a Northwestern Medicine facility in Chicago.

Operasi yang dilakukan sudah berhasil, namun pada masa pasca-operasi, pasien ini masih harus menggunakan ventilator untuk dapat tetap bernapas. Adanya infeksi serius ini telah membuat otot dada kirinya terlalu lemah untuk bernapas. Sehingga membutuhkan waktu untuk bisa benar-benar pulih. Tentunya keberhasilan transplantasi paru-paru terhadap pasien dengan COVID-19 merupakan sebuah kabar yang menggembirakan. Meskipun berhasil, tindakan operasi seperti ini tidak dapat sembarang dilakukan terhadap setiap pasien COVID-19. Dalam hal ini, utamanya transplantasi hanya dilakukan untuk pasien COVID-19 dengan tingkat kerusakan paru-paru yang sangat tinggi dan hanya dapat bernapas dengan bantuan ventilator. Selain itu, kurangnya donor yang tersedia juga dapat menjadi faktor lain dari operasi transplantasi paru-paru yang hanya dilakukan secara spesifik ke pasien COVID-19, serta hanya bisa mengandalkan ventilator, dan alat bantu lainnya untuk bernapas.

Sumber : https://www.nytimes.com/2020/06/11/health/coronavirus-lung-transplant.html